• Perhatikan sekitar kita, belajar kebijakan besar dari hal terkecil disekitar kita.

    Banyak hal besar terjadi di alam setiap detiknya, kesadaran dan rasa penasaran menjadikannya pelajaran berharga bagi hidup dan kehidupan.

    Banyak hal besar terjadi di alam setiap detiknya. Sikap ignorance membuai kita dan membuat kita memilih untuk mengabaikannya.

    Kita adalah subjek, sekaligus predikat dan juga sekaligus objek di sastra alam raya. Oleh karena itu, akan selaras dalam indahnya sastra semesta apabila kita ikut menulis, membaca dan menyebarkan kebijakan semesta. Dengan semangat sama-sama saling belajar dan mengembangkan diri, dengan begitu akan lebih banyak karya yang membawa kebaikan bagi lebih banyak orang, sekaligus di satu sisi memperkaya gaya bahasa dan plot sastra semesta.

    Karena kita seperti halnya setiap titik debu membangun konfigurasi semesta. Seperti halnya setiap sel bekerja sendiri dan bersama-sama membangun keutuhan suatu individu dan makhluk. Seperti daun yang bersama-sama membentuk keindahan dan fungsi sesuai pola alam dari setiap pohon.

    Tidak ada pribadi yang biasa, semua orang adalah luar biasa, signifikan dengan peran dan keunikan masing-masing membangun keutuhan semesta. Setiap individu adalah perwujudan terkecil peta semesta.

    Tags: , , , ,

  • Perjalanan dinas saya ke Surabaya kali ini banyak diwarnai hal yang membuat diri saya bersyukur.
    Dari rasa senang memberi surprise pada teman baik yang kebetulan berulang tahun, juga memiliki teman yang menjemput saya di bandara, mengantarkan saya dan kawan-kawan seperjalanan untuk menikmati santap siang yang sangat lezat, hingga meminjamkan mobilnya seharian bagi saya untuk keperluan dinas ini.
    Tapi itu bukanlah inti dari cerita ini.
    Saat dalam perjalanan ke sebuah tempat, saya melihat sebuah kenyataan hidup.
    Sebuah keluarga terdiri dari Bapak, Ibu dan dua orang anak sedang makan siang di pinggir jalan seberang jalan dari arah saya. Si Bapak sedang lahap memakan makanan, si ibu sedang menyuapi kedua anaknya yang sedang duduk dalam gerobak yang sepertinya selalu mereka bawa kemanapun mereka pergi.

    Tanpa sadar saya ikut tersenyum dan larut dalam situasi tersebut. Sebuah kisah pemandangan indah disaat menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Saya melihat sang anak tertawa melihat saya tersenyum saat itu, bahkan dia balas menggoda saya dengan permainan wajah yang lucu dengan menjulurkan lidah dan tertawa lepas.

    Si Ibu terlihat menegur anak-anaknya dan tersenyum kepada saya. Saya hanya mengangguk dan membalas deng senyuman yang lebih lebar.

    Tidak ada kata yang terucap hanya saling senyum, namun sudah lebih dari cukup untuk menjalin silaturakhim singkat ini.

    Suara klakson mobil belakang saya mengagetkan saya. Segera saya melambaikan tangan kepada mereka dan menjalankan kendaraan menuju tujuan saya semula.

    Sebuah situasi penuh kegembiraan, kedamaian, kehangatan, dan sangat tulus meskipun sederhana.
    Sebuah pesan yang mengingatkan saya kembali bahwa kebahagiaan dan ketenangan tidak datang dari mana-mana, namun timbul dari diri kita, dari hati kita.
    Sangat sederhana, “pure and simple”.

    Saking sederhananya, sampai banyak manusia tidak menyadari hal ini. Bahkan banyak yang memiliki believe system bahwa untuk mencapai kebahagiaan kita harus bekerja keras meraihnya, no pain no gain. Sepertinya tidak ada yang sederhana dalam meraih kebahagiaan, semua penuh syarat dan kompleks.

    Terkadang kita terlarut dalam drama kehidupan, hal ini wajar terjadi karena kita menjalankan peran kita dalam hidup ini. Namun sungguh senang diingatkan kembali bahwa kebahagiaan dan kedamaian sebenarnya berasal dari dalam diri kita, sangat sederhana, mudah dan murni 🙂

    Terima kasih telah diingatkan…

    Tags: , , ,

  • Many friends who has visited this site (thank you all), they share the same question;

    “Fibriandani, you always say releasing and accepting all the unpleasant events.

    How’s the easiest process to release the pain, the unhappiness, the unpleasant events, and all the emotion that come with those events?”

    Creator of all that is, give us tears (thank you GOD, The Most Merciful, The Most Gracious).

    Tears are the river of life. In there shared joy and happiness as well as sadness and fear.

    Just release the energy along with tears and realize that it’s just an event in our beautiful life.

    Let’s continue our journey, facing the art of life, take the lesson in each event with awareness and feeling so blessed and grateful.

    Namasté

    Tags: , , ,

  • Kita membutuhkan event negative dalam hidup kita, agar kita bisa belajar dari event tersebut.

    Seperti halnya :

    1. Matahari bersinar indah, debu telah tersapu air dan terkadang sang pelangi hadir menyapa kita setelah hujan deras mereda

    2. Keindahan memperoleh kesempatan untuk muncul, seperti halnya matahari dan rasa syukur, ketika badai telah berlalu dan menyapu segala hal yang buruk.

    3. Kupu-kupu yang indah akan muncul setelah ulat mengalami perubahan drastis saat menjadi kepompong.

    4. Seorang ibu akan merasa bahagia saat menimang anak untuk pertama kalinya setelah 9 bulan mengandung.

    5. Kita menyadari berartinya lentera, lampu, senter, Neon pada saat aliran listrik kembali normal setelah pemadaman listrik masal dan memakan waktu lama.

    6. Kita menyadari berarti kesehatan saat kita memperoleh kesembuhan dari sebuah penyakit.

    7. Kita menyadari manisnya “obat yang pahit” pada saat kita terbantu sembuh (atas ijin creator of all that is).

    Masih banyak contoh-contoh lain menggambarkan betapa perlunya kita berterima kasih terhadap negative event, karenanya kami bisa mengembangkan diri kita dan lebih bersyukur terhadap hidup kita.

    Terima kasih, denganmu saya berkembang.

    Thank you negativity, therefore i am in harmony, peace, love and joy with my life… (fibriandani)

    Tags: , ,

  • Duka Diri adalah kumulatif dari emosi – emosi yang muncul dan tidak terselesaikan (berupa rasa sedih, rasa duka, rasa tidak puas, rasa dendam dan rasa-rasa lain yang tidak menyenangkan hati/negative*), yang muncul menyertai kejadian-kejadian yang kita alami di masa sebelumnya. Emosi adalah rasa yang muncul menyertai sebuah kejadian. Emosi sendiri adalah energy, “emotion ~ energy in motion”.

    Apabila emosi adalah energy, maka berupa apakah Duka Diri ini?

    Duka Diri adalah sebuah entity yang muncul menyertai setiap pribadi, akibat kumulatif emosi yang tidak terselesaikan (resolved). Dan mereka membutuhkan keakuan sebagai asupan untuk tetap exist.

    Sebagai contoh, seseorang terkadang masih terlarut dalam kesedihan, akibat traumatik putus cinta. Hingga mereka masih tenggelam dalam kesedihan masa lalu, walaupun kejadian putus cinta itu telah lama berlalu. Terkadang energy kesedihan itu selalu muncul saat mereka memulai hubungan baru. Munculah pertanyaan-pertanyaan dan kekhawatiran-kekhawatiran baru;

    • Apakah pasangan baru ini akan menyakiti dirinya?
    • Apakah hubungan dengan pasangan baru ini akan langgeng?
    • Apakah hubungan ini pada akhirnya akan kandas juga dan membuat dia kembali terpuruk dan tenggelam dalam kesedihan?
    • Serta kekhawatiran-kekhawatiran lain yang sebenarnya belum terjadi.

    Kekhawatiran yang muncul (akibat semua rasa emosi negative masa sebelumnya yang belum terselesaikan), mempengaruhi pribadi yang bersangkutan dalam melihat dan menjalani perjalanan hidupnya saat itu.

    Duka Diri menjadi sebuah entity baru yang muncul, menyertai diri kita, dan kita sering teridentifikasi/mengidentifikasikan diri dengan Duka Diri ini.

    Apa yang bisa kita lakukan dengan Duka Diri ini? Sama seperti kita dalam menghadapi keakuan, yaitu dengan menyadari keberadaannya. Itu adalah Duka Diri dan bukan diri kita yang sejati. Hanya itu.

    *) Istilah “Negative” disini adalah relative, hanya untuk menjadi bantuan dalam identifikasi, label terhadap emosi yang tidak sesuai dengan keinginan hati (membuat bahagia, nyaman, damai, dll). Hal ini perlu dijelaskan, karena pada kenyataannya, semua itu tidak ada yang real, semua itu relative, tidak ada positive atau negative.

    *) Thank you Eckhart Tole, Bless you.

    Tags: , ,

  • Sesungguhnya manusia dilengkapi panca indera, pikiran dan nafsu sebagai hiasan dalam hidup didunia. Kita membutuhkan mereka agar hidup dan kehidupan yang kita jalani menjadi memiliki variasi dan warna. Satu hal yang perlu disadari adalah untuk tidak terjebak dalam lautan pikiran dan nafsu, sehingga kita mengidentifikasikan diri kita dengan mereka.

    Kita terbiasa meng-identifikasikan diri kita dengan materi yang kita miliki, dengan peran yang kita jalani sehari-hari , tingkatan sosial yang kita jalani. Ini adalah peran nafsu/“keakuan” sebagai hiasan bagi hidup kita. Kita bisa menggunakan mereka sebagai metode untuk maju dan berkembang, selama kita menyadari keberadaan mereka.

    Tugas utama keakuan adalah memisahkan dan membandingkan diri kita, status kita, pekerjaan kita, materi yang kita miliki dengan orang lain. Hingga timbul rasa kita lebih baik atau kita merasa lebih rendah dibandingkan yang lain.

    Tugas mereka yang lain adalah untuk “mengidentifikasikan” diri kita yang sejati dengan materi yang kita miliki, peran yang kita jalani, dan status social kita perankan. Sehingga dengan label, topeng dan “kesalahan identifikasi” itu memisahkan diri kita yang sebenarnya dengan identifikasi pikiran terhadap diri kita. We are being possesed by our mind/thought.

    Apakah perlu kita menghilangkan “keakuan”? Kita tidak bisa menghilangkannya, hanya menyadari keberadaannya. Dan dengan menyadarinya kita sendiri telah terbangun 🙂

    Selamat menyadari 🙂

    Blessed Eckhart Tole for his work. Thank You.

    Tags: , ,

   

Recent Posts

Recent Comments

  • Mas Syaifuddin, acara ini merupakan acara rutin dari Gerakka...
  • Ingin gabung,gmn caranya? mksh.
  • TPDP mas...Tua Pasti Dewasa Pilihan , itulah yg sering diuca...
  • Terima kasih Mbak Marisa, semoga Mbak sehat, sukses dan baha...
  • Bagus banget mas.. Semua yang ditulis mas febri selalu menja...