• Bacalah… Bacalah…. Bacalah….

    Membaca semua tanda-tanda yang ada di sekitar kita. Apapun yang hadir dalam hidup dan kehidupan kita adalah ayat-ayat tersembunyi yang harus kita baca dan sadari. “Ke mana pun engkau menghadap, kamu akan menemukan wajah Sang Pencipta.”

    Salah satu yang dapat dibaca dari kejadian yang melibatkan orang lain adalah membaca keakuan dan duka diri dalam diri pribadi dan diri orang tersebut dalam kejadian itu. Sesungguhnya dalam diri setiap orang, terdapat pribadi hakiki, diri sejati yang terlepas dari pengaruh keakuan dan duka diri.

    Pekerjaan saya selama ini yang berhubungan dengan aktifitas sales dan customer service (tanpa berusaha terlarut dalam peran), tentu saja saya sering menjumpai kejadian dimana seseorang sedang dalam pengaruh Keakuan dan Duka Diri. Tidak jarang saya menghadapi pelanggan yang marah, sarkas, terkadang hingga memaki dan mengeluarkan kata-kata kasar. Dalam menghadapi situasi demikian, kita juga seyogyanya membaca dan menyadari bahwa “Hawa nafsu/keakuan” dan “Si Duka Diri” dalam diri orang tersebutlah yang sedang berbicara, dan bukan diri sejati mereka.

    Menyadari duka diri dan keakuan orang lain relatif mudah. Tugas kita selanjutnya adalah untuk menyadari keakuan dan duka diri dalam diri kita sendiri. Teringat sebuah kata-kata dari timur, bahwa terdapat perang yang lebih besar dari sebuah perang akbar (badar) adalah perang menghadapi diri sendiri. Saya juga teringat moto sebuah keluarga silat di tanah air, yaitu “Penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukan dirinya sendiri.”

    “Demi masa, sesungguhnya Manusia itu merugi, kecuali yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran”

    Apabila kita telah dapat menyadari “keakuan” dan “duka diri” dalam diri pribadi dan orang lain, maka hal lebih lanjut yang dapat dilakukan adalah saling mengingatkan dan menasihati sesama saudara/manusia.

    Sekali lagi tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, itu semua relatif, yang ada hanya sebuah kesadaran diri untuk disadari.

    Semoga kita bisa menjadi salah satu “penakluk terbesar”.

    Tags: , , , ,

  • Ada sebuah gejala menarik dalam industry film Hollywood. Beberapa tahun terakhir ini banyak muncul film yang mulai menampilkan trend tertentu, aspek spiritual. Spiritual tidaklah sama seperti agama, namun ke arah pencerahan keberadaan diri sebenar.

    Dari mulai film kartun seperti Flushed Away, dimana terkandung nilai tersembunyi dari beberapa universal laws, terutama law of attraction, hingga Kungfu Panda, yang sangat jelas-jelas menonjolkan aspek spiritual. I bless Kungfu Panda Movie, mengingat saya memiliki kesulitan selama ini dalam menjelaskan  kekuatan “present moment”, “presence”, namun sangat terbantu dengan adanya film ini.  Client maupun teman saya lebih mudah memahami dengan menggunakan salah satu adegan/scene pembicaraan Po (kungfu Panda) dengan Masternya tentang present moment. Satu hal lagi yang membuat saya kagum adalah keahlian mereka dalam mengemas dan menampilkan film dengan muatan pelajaran yang sarat makna dalam bentuk yang ringan dan entertaining.

    Aspek relativity dalam kehidupan juga menjadi salah satu materi yang banyak ditampilkan dalam film-film Hollywood akhir-akhir ini. Kita memahami bahwa tidak ada yang namanya realita. Realita hanya ada dalam pikiran dan persepsi kita. Segala sesuatu adalah relatif. Kebenaran kita belum tentu merupakan kebenaran bagi orang lain. Saat ini sosok Hero dan Villain semakin tipis perbedaannya. Tidak ada lagi batas hitam putih, yang ada abu-abu. Kondisi ini mulai ditampilkan di film Batman, X-Men, Hell Boy, Max Payne, Wanted, Eagle Eyes, Kill Bill, dll. Film-film ini digarap dengan lebih kelam dan alur berjalan cepat. Tokoh pahlawan pun digambarkan abu-abu, kondisi ini sangat terlihat dalam film-film Batman.

    Demikian juga dengan serial TV. Film seperti Heroes, Life dan My name is Earl, mulai memasukan aspek-aspek spiritual. Dalam film Heroes, setiap pahlawan digambarkan sebagai pribadi biasa yang “kebetulan” memiliki kekuatan tertentu. Di sini pun sosok pahlawan dan penjahat digambarkan relative, satu polarity bisa menyeberang ke polarity yang lain.

    Dalam serial Life, banyak muncul filsafat timur, zen. Bercerita tentang kisah Detective Charlie Crews, seorang polisi yang sempat dipenjara selama 12 tahun, akibat sebuah konspirasi tingkat tinggi, meskipun sebenarnya dia tidak bersalah. Kehidupan penjara sangat keras, terutama bagi seorang polisi ditengah komunitas penjahat yang sedang direhabilitasi. Selama di penjara Crews yang tidak bersalah sempat beberapa kali mencoba bunuh diri, sehingga akhirnya dia dikurung di sebuah sel isolasi khusus. Selama 23 jam setiap harinya selama 12 tahun terkurung tanpa bersosialisasi dengan satupun manusia, membuat Crews makin kehilangan akal sehatnya. Hingga suatu hari dia menemukan sebuah buku tentang Zen. Saat itulah Crews menemukan penyelamat jiwanya dari kegilaan akibat terkurung dalam waktu lama. Hingga kemudian, tes-tes dan penyelidikan membuktikan Crews tidak bersalah.

    Hal yang patut diacungi jempol adalah keahlian team creative mereka dalam meng-hubungkan korelasi antar setiap tokoh dan kejadian di film itu dengan apa yang dialami oleh si tokoh utama (Crews), menunjukan bahwa tidak ada yang namanya kebetulan.

    Demikian juga dengan “My Name is Earl”, menampilkan cerita tentang Earl , seorang penjahat kambuhan  yang berusaha memperbaiki hidupnya setelah dia melihat mengenal konsep karma. Dia berusaha memperbaiki list kekeliruan-kekeliruan yang pernah dilakukan sebelumnya dengan kebaikan. Film yang ringan, cukup menghibur dan memiliki nilai yang bisa kita pelajari.

    Apabila melihat trend semua itu, memang “terkesan” ada hal positif dan ada hal negatif (meskipun itu semua relative). Itulah indahnya kehidupan. Namun kita selalu dapat melihat hal baik yang bisa kita addopt dan nilai-nilai yang bisa kita pelajari. Melihat semua itu saya berharap semoga perfilman dan pertelivisian indonesia bisa ikut maju, sehingga bisa memberikan tontonan yang bermutu dan bermanfaat.

    Tags: ,

  • Duka Diri adalah kumulatif dari emosi – emosi yang muncul dan tidak terselesaikan (berupa rasa sedih, rasa duka, rasa tidak puas, rasa dendam dan rasa-rasa lain yang tidak menyenangkan hati/negative*), yang muncul menyertai kejadian-kejadian yang kita alami di masa sebelumnya. Emosi adalah rasa yang muncul menyertai sebuah kejadian. Emosi sendiri adalah energy, “emotion ~ energy in motion”.

    Apabila emosi adalah energy, maka berupa apakah Duka Diri ini?

    Duka Diri adalah sebuah entity yang muncul menyertai setiap pribadi, akibat kumulatif emosi yang tidak terselesaikan (resolved). Dan mereka membutuhkan keakuan sebagai asupan untuk tetap exist.

    Sebagai contoh, seseorang terkadang masih terlarut dalam kesedihan, akibat traumatik putus cinta. Hingga mereka masih tenggelam dalam kesedihan masa lalu, walaupun kejadian putus cinta itu telah lama berlalu. Terkadang energy kesedihan itu selalu muncul saat mereka memulai hubungan baru. Munculah pertanyaan-pertanyaan dan kekhawatiran-kekhawatiran baru;

    • Apakah pasangan baru ini akan menyakiti dirinya?
    • Apakah hubungan dengan pasangan baru ini akan langgeng?
    • Apakah hubungan ini pada akhirnya akan kandas juga dan membuat dia kembali terpuruk dan tenggelam dalam kesedihan?
    • Serta kekhawatiran-kekhawatiran lain yang sebenarnya belum terjadi.

    Kekhawatiran yang muncul (akibat semua rasa emosi negative masa sebelumnya yang belum terselesaikan), mempengaruhi pribadi yang bersangkutan dalam melihat dan menjalani perjalanan hidupnya saat itu.

    Duka Diri menjadi sebuah entity baru yang muncul, menyertai diri kita, dan kita sering teridentifikasi/mengidentifikasikan diri dengan Duka Diri ini.

    Apa yang bisa kita lakukan dengan Duka Diri ini? Sama seperti kita dalam menghadapi keakuan, yaitu dengan menyadari keberadaannya. Itu adalah Duka Diri dan bukan diri kita yang sejati. Hanya itu.

    *) Istilah “Negative” disini adalah relative, hanya untuk menjadi bantuan dalam identifikasi, label terhadap emosi yang tidak sesuai dengan keinginan hati (membuat bahagia, nyaman, damai, dll). Hal ini perlu dijelaskan, karena pada kenyataannya, semua itu tidak ada yang real, semua itu relative, tidak ada positive atau negative.

    *) Thank you Eckhart Tole, Bless you.

    Tags: , ,

  • Sesungguhnya manusia dilengkapi panca indera, pikiran dan nafsu sebagai hiasan dalam hidup didunia. Kita membutuhkan mereka agar hidup dan kehidupan yang kita jalani menjadi memiliki variasi dan warna. Satu hal yang perlu disadari adalah untuk tidak terjebak dalam lautan pikiran dan nafsu, sehingga kita mengidentifikasikan diri kita dengan mereka.

    Kita terbiasa meng-identifikasikan diri kita dengan materi yang kita miliki, dengan peran yang kita jalani sehari-hari , tingkatan sosial yang kita jalani. Ini adalah peran nafsu/“keakuan” sebagai hiasan bagi hidup kita. Kita bisa menggunakan mereka sebagai metode untuk maju dan berkembang, selama kita menyadari keberadaan mereka.

    Tugas utama keakuan adalah memisahkan dan membandingkan diri kita, status kita, pekerjaan kita, materi yang kita miliki dengan orang lain. Hingga timbul rasa kita lebih baik atau kita merasa lebih rendah dibandingkan yang lain.

    Tugas mereka yang lain adalah untuk “mengidentifikasikan” diri kita yang sejati dengan materi yang kita miliki, peran yang kita jalani, dan status social kita perankan. Sehingga dengan label, topeng dan “kesalahan identifikasi” itu memisahkan diri kita yang sebenarnya dengan identifikasi pikiran terhadap diri kita. We are being possesed by our mind/thought.

    Apakah perlu kita menghilangkan “keakuan”? Kita tidak bisa menghilangkannya, hanya menyadari keberadaannya. Dan dengan menyadarinya kita sendiri telah terbangun :)

    Selamat menyadari :)

    Blessed Eckhart Tole for his work. Thank You.

    Tags: , ,

  • Bacalah, Bacalah, Bacalah…

    Sebuah perintah sederhana yang terkesan mudah namun sukar untuk dilaksanakan dan disadari.

    Membaca semua tanda-tanda yang ada di sekitar kita. apapun yang hadir dalam hidup dan kehidupan kita adalah ayat-ayat tersembunyi yang harus kita baca dan sadari. “Ke mana pun engkau menghadap, kamu akan menemukan wajah Sang Pencipta.”

    Apapun hal, peristiwa atau seseorang yang membuat kita bahagia, adalah ayat dimana kita bersyukur akan semua nikmat yang datang.

    Begitu juga saat kita berhadapan dengan hal, peristiwa atau seseorang yang membuat kita sedih, adalah ayat yang harus kita baca dan disadari. Sebagai pengingat bagi kita untuk tidak terlarut dalam kesedihan.

    Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, itu semua relatif, yang ada hanya sebuah kesadaran diri untuk disadari.

    “Membaca” membuat kita sadar bahwa dalam menjalani hidup dan kehidupan, adalah pilihan dan konsekuensi. Namun yang lebih utama adalah dalam memilih maupun menjalani pilihan hidup, kita menjalani dengan kesadaran. Sekali lagi tidak ada yang benar dan salah, karena semua konsekuensi yang kita hadapi dan kita peroleh dari pilihan dengan kesadaran hanya akan meningkatkan kualitas kesadaran kita itu sendiri (fibriandani).

    Tags: , , , , , ,

   

Recent Posts

Recent Comments

  • Mas Syaifuddin, acara ini merupakan acara rutin dari Gerakka...
  • Ingin gabung,gmn caranya? mksh.
  • TPDP mas...Tua Pasti Dewasa Pilihan , itulah yg sering diuca...
  • Terima kasih Mbak Marisa, semoga Mbak sehat, sukses dan baha...
  • Bagus banget mas.. Semua yang ditulis mas febri selalu menja...